POLITIK
SUDAH MENJADI HAL YANG NAJIS
Oleh;
Fauzi Fehung STJ
Sebelum
kita berbicara politik dan orang yang sudah masuk dunia politik. Apakah kita
sudah paham apa itu politik? Bisa jadi kita sebenarnya tidak paham dan hanya
sekedar ikuk-ikutan berbicara politik dan masuk dalam dunia politik. Kita
pahami dulu pengertian politik menurut pendapat di bawah ini!
Politik
menurut KBBI adalah (pengetahuan) mengenai ketata negaraan atau kenegaraan
(seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan).
Secara
etimologis, politik bersal dari bahasa yunani polis yang berarti kota atau
negara kota. Kemudian arti itu berkembang menjadi polites yang berarti warga
negara, politeia yang berarti semua yang berhubungan dengan negara, politika
yang berarti pemerintahan negara dan politikos yang berarti kewarga negaraan.
Aristoteles (384-322 SM).
Pengertian
politik dalam islam secara bahasa dalam bahasa arab disebut as-siyasah yang
berarti mengelolah, mengatur, memerintah dan melarang sesuatu. Atau secara
definisi berarti prinsip prinsip dan seni mengelolah persoalan publik
(ensiklopedia ilmu politik).
Nah
ketika kita sudah paham apa itu politik! Tentunya kita tidak ikut ikutan lagi
dalam berbicara politik dan masuk dalam dunia politik itu tersebut. Karna
politik bukan untuk di gunakan kejahatan, menindas, janji janji yang tidak
pernah ditepati dalam kota dan negara. Sehinga tidak menjelekkan lagi nama
politik yang sebenarnya itu adalah bagus dalam suatu kepemerintahan. Tentunya
politik membawah kesejahteraan, keadilan, dan keterbukaan pada bangsa untuk
mencapai suatu pengelolahan yang lebih baik untuk rakya indonesia.
Tapi!
Politik sekarang membuat orang tidak lagi percaya pada penguasa negara yang
duduk di kursi dan bersanding meja agar dipilih, perkataannya yang tidak bisa
dipercaya lagi, sudah diperbudak kekuasaan hingga lupa apa yang harus dia lakukan
atau dikerjakan dalam tugas seorang abdi negara. Karna logam dan kertas yang
bersetempel rupiah menjadi tujuan seorang pemimpin meskipun itu punyak rakyat
yang diambil. Sehingga keluar kata kata bahwa politik itu najis dan ada lagi
yang berkata bahwa politik itu tai kucing. Jangan heran ketika ada yang
mengatakan seperti itu. Karna itu merupakan suatu kebencian, curahan hati, dan
kritikan keras terhadap perbuatan yang dilakukan seorang pemimpin yang hanya
bisanya berjanji dalam pemilihan. Apa lagi keterbukan seorang pemimpin tidak
ada atau tidak memiliki maka kecurigaan rakyat semakin yakin bahwa setiap pemimpin
itu akan mengombar kebohongan dan itu pasti banyak berbohong.
Kesalahan
yang dilakukan merupakan bodohnya seorang yang tidak tau apa itu politis. Sehingga
memperbudak rakyat sendiri seperti dizaman penjajah yang ingin meguasai sumber
daya alamnya indonesia dengan cara berkuas menodongkan senjata (Pestol) dan
memperbudak rakyat tanah air, sorang politik ingin merebut kekuasaan dengan
cara uang yang dijadikan senjata untuk orang itu menjadi tim sukses dan mau
memilihnya, dan dengan kata kata manisnya supaya dipilih oleh rakyat dengan
cara apapun meskipun itu akan mengadu domba antar sesama kelompok, keluarga,
dan tetangga dekat dengan membius sehingga mempunyai karakter fanatisme. Itu
kecelakaan besar pada orang yang berpengetahuan atau berpendidikan ketika
terikut pada orang orang yang bermain politik tapi tidak tau caranya,
berpolitik yang secara baik atau benar, tidak mecaci atau terjadinya
permusuhan. Kesadaran itu yang belum tumbuh dikalang orang awam bahwa kita
sekarang diperalat oleh orang yang ingin merebut kekuasaan dalam pemilihan parlemin,
dari mulai kalangan tua sampai yang muda, dan kalangan tidak berpendidikan
sampai dengan yang berpendidikan.
Ingin
merebut kekuasaan memang tidak hanya berdasarkan informasi yang disebarkan
melalui baliho atau televesi, tetapi juga melalui cara bersosial, dan jaringan
sosmed sepeti WA, FB, Istagram agar supaya kita mengenalinya dan ikut padanya.
Terlalu bayak sudah di kalangan rakyat kecil menyimpulkan bahwa politisi cenderung berbicara tentang kebaikan dirinya.
Setiap daerah merasakan itu semua dalam pesta pemilihan umum yang dilaksanakan
kurang 5 tahun satu kali (Capres dan Cawapres), 5 tahu satu sekali (DPR), 5
tahun satu kali (Gubenur), dan wali kota 5 tahu sekali, dan seterusnya.
Dari
dulu sampai sekarang hakikat mahasiswa itu sendiri yaitu menegaskan dirinya
sebagai kekuatan moral atau kekuatan politik. Sebagai mahasiswa, terus
membenahi, meluruskan pemikiran orang politik yang salah menggunakannya dengan
sesuatu yang tidak berprikemanusiaan tentang hal tersebut merupakan tanggung
jawab mahasiswa sebagai generasi mudah yang akan menggantikan yang tua katanya
Bung Karno. Bawah sebenarnya politik itu bukan hal yang najis ketika kita kaji
dan kita pahami dengan benar, akan tetapi orang yang berpolitik itulah yang
membawahnya sihingga menjijikkan dalam jiwa masyarakat dan tidak mau lagi
terdengar ditelingahnya.
Uniknya,
politik di indonesia merupakan kebijakan yang dibuat tidaklah menguntungkan
rakyat, atau hanya menguntungkan bagi sekelompok orang saja, sakunya yang
selalu terbuka, masyarakat selalu meminta minta haknya, tapi tidak didengarkan
dengan hati yang buta. Partai politik indonesia menjadi sarang orang gila tahta
dan harta yang tidak kenal kasihan pada rakyat tertidas dengan sepeti itu dia
berlagak seorang yang tidak puyak salah. Kalo tetap seperti itu partai politik
di indonesia memang tidak akan bisa membawah negara untuk maju dan berkembang
dengan adanya permainan permainan kekuasaan, tikus bermeja layaknya di usir
atau dihukum gantung, agar tidak selalu untung.
Dan
pada tahun 2019 ini memang dihebohkan dengan politik, media yang sudah berkoar
koar denga saling menghujad atau memfitna halal semua cara yang dilakukannya,
sehingga menjadi gencar dan melakukan beberapa usaha untuk menampilkan dirinya
di masyarakat. Sumber informasih yang didapat semua masyarakat dalam mengetahui
terkait pelaksanaan pemilu serentak 2019, pertama televesi, media massa, media
online, internet, media sosial, mulut ke mulut, media cetak. Hadirnya politik menjadi
beban dan menghantui atau akan terulangnya sejarah penindasan dan kemelaratan.
Seperti penjajah membuat masyarakat resa, gelisa. Sebenanya kan negara ini
adalah dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat, dan tiada tinggal didalam
negara, kecuali rakyatnya. Dan tiada tinggal didalam pemerintahan, kecuali
keadilannya.
Kerinduan
bangsa terhadap keadilan terus bercucuran air mata tidak terhenti oleh
kepidihan sampai terkapar dalam desa yang dilihat sebelah mata. Penguasa
berdiri tegak berpakaian rapi dasimu tergantung dilehermu berbicara keadilan,
untuk meraih pencitraan diri dan memjadi orang tertinggi dalam demokrasi,
sedangkan intensitas pencitraan bangsa sudah mati terkubur dengan kata janji
yang tidak perna ditepati. Penderitaan penderitaan tak kunjung padam sepanjang
waktu dan sepanjang kehidupan seperti maling kundang yang dikutuk, kapan bangsa
ini bebas? Sebenarnya kita sudah bertahun tahun rindu pada kejujuran,
keterbukaan, dan keadilan, yang tidak perna kita rasakan. Katanya Soe Hok Gie
“kita rindu kepada kejujuran, kepada keterbukaan, kepada suatu rasa keadilan
dan terakhir kerinduan kepada keberanian dalam arti suatu keberanian moral”.
Tahun
sekarang bangsa sebagai alat memperkaya penguasa. Kaum kapitalis semakin lahap
merobek usaha rakyat kecil yang bermodal air keringat yang terus mengalir dari
kepalahnya sampai pantatnya, benar yang dikatan Bang Haji Roma Irama bahwa yang
kaya makin kaya (Penguasa) yang miskin makin miskin (Rakyat Tertindas).
Karena
itu maka untuk keselamatan Bangsa dan Negara terutama dalam level politik
dengan segala bahaya bahayanya dan segalah godaan godaannya itu diperlukan satu
revolosi mental. Ibaratnya baju kotor, “penyucian kembali” atau “pembersihan
kembali” atau “pelunturan kembali”, tau apapun! Karna masih ada jiwa politik
penjajah pada kaum pemerintah. Pemberantasan segalah politik asing yang gila
gilaan! Kembalilah kepada politik berprikemanusiaan.
Rankyat
kini terlalu banyak makan garam dan air laut sudah asin jangan dibumbui dengan
garam. Mudah mudi penerus generasi tua sudah cukup umur untuk wajib memilih,
sudah cukup dengan basa-basi, dan kita jangan mau kalo diprofokasih pemiluh
tahu ini. Kita mulai awasi saja yang janji-janji doang yang doyan pencitraan
bakal korupsi ulang buat nutupin hutang sendiri. Nantinya akan berdampak pada barang-barang
menjadi makin mahal, harga yang naik tidak wajar! Lebih baik gunakan suara kita
dengan cerdas dalam memilih dan apa visi misinya? Amati jangan sampai nyesel
lagi, sehingga nantinya berdampak lagi ke ekonomi tak merata. Rakyat menjadi
menderita meskipun banyak lapangan pekerjaan. Akan tetapi orang asing
diperkaya. Zaman sudah berbeda, kita sudah tau orang yang sibuk dalam media
atau liputan berita, kini sudah beda usia. Masa depan bangsa sekarang ini kita
yang harus menententukan walaupun berjuang dengan pengangguran, karna titel
sarjananya tak mendapat peluang pekerjaan. Uniknya, pejabat lulusan SD yang
mengandalkan uang merangkul kekuasaan tidak memberi pada yang berpendidikan
sarjana. Sudah benarkah kita merdeka? Jika rakyat masih dijadikan boneka
seperti ini oleh pemerinta. Ternyata pemerintah masih tidak peka adanya kritikan-kritikan
yang tampak terang sampai berkeliaran dijalan-jalan menuju perubahan.
Agama
terus dijadikan dalil dan kobohongan semakin tampak berteriak-teriak di media
massa. Mencari kesalahan seteruh, mengumbar di media dengan suara yang lantang
tidak melihat kawan dan saudarah. Politik terus menyengsarakan bangsa. Sehingga
rakyat semakin menderita dengan adanya orang-orang yang rakus kekuasaan.
Menandakan politik telah menjajah rakyat kecil seperti adanya penjajah luar
dijaman melinial. Kini penjajah luar berganti penjajah dalam negeri
(orang-orang sendiri). Kehadirannya, mereka tetap memperbudak rakyat jelata.
Hati mereka telah tertutup dengan janji yang tidak perna ditepati. Mereka belum
menyadari perbuatan yang tidak terpuji.
Penguasa
terus berganti 5 tahun sekali, politik kekuasaan tidak perna berubah sama
sekali. Apakah sejarah akan selalu berakhir dengan penderitaan? Hanya generasi
yang bisa dinanti untuk bisa merubah semua yang sudah terjadi seperti apa yang
di katakan bung Karno “Berikan aku sepuluh pemudah akan aku guncangkan dunia”.
Manipisto
politik gerakan pembaharuan setelah kemerdekaan tercapai kenyataan menunjukkan
bahwa kita masih jauh dengan tujuan, kita melihat penuh kecemasan bahwa
pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan sekarang ini telah membawah bangsa
dan negara indonesia kepada keadaan yang amat mengewatirkan. Diktator
perseorangan dan golongan yang berkuasa bukan lagi merupakan bahaya diombak
pintu. Tetapi telah menjadi sebuah kenyataan.
Cara-cara
kebijaksanaan negara dan pemerintahan bukan saja bertentangan dengan asas-asas
kerakyatan dan himpauan musyawarah bahkan menindas memperkosanya. Jelas sudah
bagi kita bahwa istilah demokrasi terpimpin dipakai sebagai topeng belakang
justru untuk menindas dan menumpas asas-asas demokrasi itu sendiri.
“Generasi muda kepulaun kangean
bersuara”.
Coba cek mungkin dari penulisan atau penggunaan bahasa ada sedikit kekeliruan. Manteblah karyamu lanjutkan
ReplyDeletebang bahasanya itu masih kurang. tapi baguslah puyak bakat. teruskan
ReplyDelete